<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title></title>
	<link>http://renunganqolbu.blogsome.com</link>
	<description>Renungan Qolbu</description>
	<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 09:34:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Seandainya Cuma Ada Ramadhan</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2008/08/24/seandainya-cuma-ada-ramadhan/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2008/08/24/seandainya-cuma-ada-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 09:34:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2008/08/24/seandainya-cuma-ada-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[	&quot; Namaku Hamdhan &quot;,&nbsp; 
	Sebelas umurku,&nbsp; Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari. Aku suka Ramadhan,&nbsp; Bulan puasa itu Bebaskan aku dari puasa tak menentu, Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap. Tinggal datang ke masjid mushala&#8230; Ada makanan enak menanti. Ta&#8217;jil katanya, pembuka puasa.
	  &quot; Aku Tono &quot;
	 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&quot; <strong>Namaku Hamdhan</strong> &quot;,&nbsp; </p>
	<p>Sebelas umurku,&nbsp; Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari. Aku suka Ramadhan,&nbsp; Bulan puasa itu Bebaskan aku dari puasa tak menentu, Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap. Tinggal datang ke masjid mushala&#8230; Ada makanan enak menanti. Ta&#8217;jil katanya, pembuka puasa.</p>
	<p>  &quot; <strong>Aku Tono</strong> &quot;</p>
	<p>  Aku suka Ramadhan, Karena majikanku berpuasa dari mengomel, memukuliku, Jika aku salah atau lambat kerja. Padahal aku &#8216;kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku&#8230; </p>
	<p><em><strong>Ramadhan.</strong></em>..<em>?</em> Aku suka itu !?!</p>
	<p>  Pundi-pundi berisi penuh, Tak cuma koin receh,&nbsp; Tapi juga uang kertas, Yang mereka lemparkan dari balik kaca mobil mewah Saat kusodorkan di <span class="yshortcuts">lampu merah</span></p>
	<p>  <em><strong>Bulan puasa itu membuat tiba-tiba banyak orang baik dan bersedekah ya</strong></em> <em>?</em></p>
	<p>  <strong><span class="yshortcuts">Jadi</span> ibuku bilang</strong>: &quot;Amir, ada sisa untuk ditabung, mudah-mudahan kamu bisa<br />  sekolah lagi .. &quot;</p>
	<p>  &quot; Suka, aku suka sekali&#8230; Ramadhan itu &#8216;kan ?!&nbsp; Bulan yang orang-orang jadi selalu makan enak untuk berbuka dan sahur Supaya tak terasa lemas dan lapar. &quot;mereka bilang&quot; Jadi harus ada kolak, es campur, kue-kue, makanan daging &quot;</p>
	<p>  &quot;<strong>Aku Anwar</strong>&quot;, si pengangkut keranjang belanja di pasar-pasar.&nbsp; Senang, berbilang kali mondarmandir mengangkut tumpukan belanja ibu-ibu, <br />  &quot;Sstt, jangan bilang guru ngaji bahwa aku jadi sering batal, tak kuat puasa karenanya..&quot;</p>
	<p>  <a id="more-19"></a>&quot; Bapakku *ndak* marah kok, aku &#8216;kan masih kecil, belum *baligh*</p>
	<p>  Asal ada uang yang bisa dibawa pulang</p>
	<p>  Kasihan bapakku lumpuh</p>
	<p>  Tak bisa <span class="yshortcuts">cari uang</span> sesudah kecelakaan di pabrik dulu</p>
	<p>  Kalau ingin ganti baju</p>
	<p>  Supaya tak tambal-tambal</p>
	<p>  Atau penuh lubang</p>
	<p>  Ya harus tunggu bulan setahun sekali</p>
	<p>  Bulan apa ya..</p>
	<p>  Pokoknya yang ada lebarannya itu..</p>
	<p>  Orang-orang kaya ganti baju</p>
	<p>  mungkin terlalu sesak lemarinya</p>
	<p>  Jadi aku dapat sisa</p>
	<p>  Tapi masih bagus bagus *kok*</p>
	<p>  Aku jadi bisa pakai berlapis</p>
	<p>  Tak terlalu dingin lagi di gubuk kecil terbuat dari kardus-kardus</p>
	<p>  Benar emak menasehati : ..&quot;Sabar *nduk*, *Gusti* Allah *ora sare*..&quot;</p>
	<p>  Menenangkan rengekanku minta baju</p>
	<p>  Karena malu diejek</p>
	<p>  Ujang si gembel bajunya tembel</p>
	<p>  Kalau ingin sekali-sekali merasakan</p>
	<p>  Gantian</p>
	<p>  Orang berpunya mengejar si papa</p>
	<p>  Mereka yang berada</p>
	<p>  mengejar pengemis gelandangan (kadang menyingkat memanggil kami Gepeng&#8230;)</p>
	<p>  Mencari agar ada penerima zakat</p>
	<p>  Besok lebaran menjelang</p>
	<p>  Akan batal <span class="yshortcuts">zakat fitrah</span> sesudah shalat</p>
	<p>  Ikut saja bersamaku di malam takbiran</p>
	<p>  Tenang-tenang tiduran di emperan pinggiran jalan</p>
	<p>  Tergopoh-gopoh mereka datang</p>
	<p>  Membangunkan kami untuk terima zakat</p>
	<p>  <span class="yshortcuts">Lucu</span>, kali ini si empunya butuh orang miskin ..</p>
	<p>  Ada benarnya juga namaku si Untung&#8230;</p>
	<p>  kecil-kecil sudah beruntung&#8230;</p>
	<p>  Aku tahu bapakku miskin sekali</p>
	<p>  Sebagai kuli</p>
	<p>  Penghasilannya cuma dari angkut barang</p>
	<p>  Tapi ia tak bolehkan, aku Mamat anaknya, mengemis</p>
	<p>  Jadi menemani Bapak</p>
	<p>  Mengambilkan minum dan sesekali pijati punggungnya</p>
	<p>  Karena di Ramadhan ia banyak sekali angkut</p>
	<p>  mebel juga kulkas, tivi baru</p>
	<p>  Nanti kalau ada ceramah di kampung aku mau tanya pak kyai</p>
	<p>  Apa bulan puasa artinya ganti perabotan ya?</p>
	<p>  Ustadz Husni pernah bilang</p>
	<p>  Tuhan itu bisa berbuat apa saja</p>
	<p>  Maha Kuasa</p>
	<p>  Tuhan juga Pemurah</p>
	<p>  Mau mendengarkan doa dari siapa saja</p>
	<p>  Termasuk anak jalanan miskin terlantar</p>
	<p>  Ya Allah,</p>
	<p>  Hamdan, Amir, Tono, Anwar, Untung, Ujang, Mamat</p>
	<p>  Doa bersama</p>
	<p>  Mengemis padaMu</p>
	<p>  Jadikan cuma ada Ramadhan</p>
	<p>  Sepanjang tahun&hellip; Marhaban Ya Ramadhan&#8230;</p>
	<p>  Amin.</p>
	<p> &#8212; <br /> Faisal Yusuf </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2008/08/24/seandainya-cuma-ada-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Meminta Maaf&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/17/mengapa-meminta-maaf/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/17/mengapa-meminta-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Nov 2006 08:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan hari ini</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/17/mengapa-meminta-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[	Mempercepat permohonan maaf itu sangatlah baik&nbsp;sebab manusia tidak tahu waktu yang pasti kapan kita meninggal dunia. &quot;Apakah kita tahu&nbsp;seandainya kita&nbsp;masih diberi kehidupan oleh Allah sehingga kita harus menunggu Ramadan atau Idul Fitri untuk meminta maaf.
	Sikap memaafkan merupakan salah satu cerminan akhlak yang mulia. Pemaaf atau mudah memaafkan, jauh lebih maslahat daripada menunda-nunda memaafkan. 
	Bila ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><img hspace="10" height="176" border="0" align="left" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" alt="" title="renungan qolbu" />Mempercepat permohonan maaf itu sangatlah baik&nbsp;sebab manusia tidak tahu waktu yang pasti kapan kita meninggal dunia. &quot;Apakah kita tahu&nbsp;seandainya kita&nbsp;masih diberi kehidupan oleh Allah sehingga kita harus menunggu Ramadan atau Idul Fitri untuk meminta maaf.</p>
	<p align="justify">Sikap memaafkan merupakan salah satu cerminan akhlak yang mulia. Pemaaf atau mudah memaafkan, jauh lebih maslahat daripada menunda-nunda memaafkan. </p>
	<p align="justify">Bila ada rekan yang menghina kita, segeralah memaafkan kesalahannya. Karena, memaafkan itu adalah bagian dari dakwah kita. Berikanlah keteladanan kepada orang lain untuk berbuat baik, memaafkan atau membuka pintu maaf selebar-lebarnya walau orang yang berbuat salah itu belum minta maaf.</p>
	<p align="justify"> <a id="more-16"></a>Orang pemaaf, cenderung hatinya merasa nyaman. Sebaliknya, pendendam atau tidak pemaaf, hatinya senantiasa gelisah dan resah. Apabila bertemu dengan orang yang berbuat salah, orang pemaaf akan mudah tersenyum dan hatinya lapang.</p>
	<p align="justify">Pendendam atau orang yang sulit memberikan maaf, kerapkali jika bertemu dengan lawannya akan berwajah murung. Hatinya tidak nyaman, dan sulit tersenyum. Sementara senyum adalah sedekah yang paling mudah dan patut dilakukan seorang Muslim.</p>
	<p align="justify">Meminta maaf dengan tulus ikhlas itu baik dan Memberi maaf itu jauh lebih baik sebab memberikan maaf itu lebih sulit dan menuntut kelapangan dada kita atas beberpa hal yang membuat hati kita tersakiti.</p>
	<p align="justify">Semoga kita menjadi orang yang beriman dan ber akhlaq baik amien&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/17/mengapa-meminta-maaf/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf dari hati&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/08/maaf-dari-hati/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/08/maaf-dari-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2006 12:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/08/maaf-dari-hati/</guid>
		<description><![CDATA[	Kata &quot;Maaf memafkan&quot;sudah merupakan satu tradisi di Indonesia dan di beberapa negara-negara lainnya menjelang hari Raya Idul Fitri ini untuk saling mengucapkan kalimat yang indah&nbsp; &quot;Mohon maaf lahir dan batin&quot;. Entah ini diucapkan secara lisan, berupa SMS, email, maupun melalui kartu Lebaran. Rasanya dunia ini menjadi begitu damai dan penuh dengan rasa kasih menjelang Idul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Kata &quot;Maaf memafkan&quot;sudah merupakan satu tradisi di Indonesia dan di beberapa negara-negara lainnya menjelang hari Raya Idul Fitri ini untuk saling mengucapkan kalimat yang indah&nbsp; &quot;<em>Mohon maaf lahir dan batin</em>&quot;. Entah ini diucapkan secara lisan, berupa SMS, email, maupun melalui kartu Lebaran. Rasanya dunia ini menjadi begitu damai dan penuh dengan rasa kasih menjelang Idul Fitri ini. Hanya yang menjadi pertanyaan apakah mungkin setelah kita melewati hari Raya Idul Fitri kita benar-benar dapat memulai dari Nol atau dari lembaran putih bersih lagi dengan prinsip a new beginning, a new chapter ? </p>
	<p align="justify">Lihat saja berapa banyak sudah kita menerima permohonan maaf tsb, bukan saja dari orang yang kita kenal bahkan dari orang yang tidak kita kenal sekalipun juga, jadi bagaimana kita dapat memaafkan mereka, padahal kita sendiri belum mengenalnya sama sekali. Dan percaya atau tidak, mereka mengirimkan bukan hanya sekedar basa-basi atau lipservice saja, melainkan karena sudah dari sananya dicetak sebagai dekorasi kartu saja, jadi maknanya kosong melompong sama sekali. </p>
	<p align="justify"><a id="more-13"></a>Pernahkan Anda merenungkan kalimat mohon maaf tersebut sebelum Anda mengirimkan kartu, Email atau SMS ? Permohonan maaf yang kita kirimkan hanya sekedar permohonan maf yang sesungguhnya sudah ada dalam format cetak dan tulisan yang kita kirmkan saja.</p>
	<p align="justify">Kita mengirim kartu dan mengucapkan ?Mohon maaf lahir batin? tanpa perlu dipikirkan lagi, itu otomatis bisa keluar langsung begitu saja, karena ini sudah merupakan tradisi atau karena sudah dicetak di dalam kartunya. Sehingga kadang kita tidak sadar arti sebuah kata maaf yang esensinya adalah ada karena kebutuhan batin kita untuk mensucikannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/08/maaf-dari-hati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>AmpunanMU adalah Segalanya&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/07/ampunanmu-adalah-segalanya/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/07/ampunanmu-adalah-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2006 22:40:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/07/ampunanmu-adalah-segalanya/</guid>
		<description><![CDATA[	Hanya Dialah, yang dapat melakukan apapun yang Dia Kehendaki. Seluruh kekuatan milikNya, Allah Maha Kuasa. Kita bukan siapa-siapa. Tapi Dia mendandani kalian, oh anak Adam, mendandani dengan kehambaan. Dan itulah tingkatan tertinggi, atau kehormatan tertinggi bagi kalian, anak Adam, perintah dari Allah Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mulia, Maha Kuasa Allah, dengan segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><img hspace="10" height="176" border="0" align="left" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" alt="" title="Lomba Blog" />Hanya Dialah, yang dapat melakukan apapun yang Dia Kehendaki. Seluruh kekuatan milikNya, Allah Maha Kuasa. Kita bukan siapa-siapa. Tapi Dia mendandani kalian, oh anak Adam, mendandani dengan kehambaan. Dan itulah tingkatan tertinggi, atau kehormatan tertinggi bagi kalian, anak Adam, perintah dari Allah Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mulia, Maha Kuasa Allah, dengan segala sesuatu ada melalui TanganNya.</p>
	<p align="justify">Audzubillahimina shaytanirajim, dan kita berlari dari setan kepada Allah. Kalian tidak bisa berbuat apapun untuk setan. Dan kita mengucap bismillahiRahmanirahim dan meminta &quot;tawwaju&quot;. Laksana sinar matahari sampai ke bumi, dan Allah Maha Kuasa memberi pakaian yang berbeda-beda kepada hamba-hambaNya, sehingga Cahaya Illahi dapat bersinar dalam hati kalian. Jika (tidak karena pakaian tersebut), maka tidak ada Kekuatan Suci, tidak ada satupun dapat meraih Cahaya Surga, Cahaya Surga tidak bisa diraih. Karenanya, tidak ada yang memohon kepada Allah Maha Kuasa untuk memberikan pengampunanNya. O, Tuan kami, ampunilah kami!<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Mereka berkata, &quot;Mengapa kami memerlukan pengampunan? Memang apa yang kami lakukan?&quot; &quot;Kami tidak melakukan hal-hal yang buruk.&quot; Mereka berkata,&quot;Kami orang yang tak berdosa.&quot; Itu pernyataan yang bodoh. Pembual, jika berkata,&quot;Mengapa kita berbuat hal yang salah?, kemudian memohon pengampunan dari Allah?&quot;! Mereka berpikir apapun yang mereka lakukan benar adanya. Mereka berpikir mereka tanpa berdosa. Mereka bahkan berpikir tidak pernah berbuat dosa dengan berkata,&quot;Oh Tuanku, ampunilah kami&quot;. Itulah ide setan. <br /><a id="more-6"></a> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Setan berkata,&quot;Aku tidak melakukan perbuatan dosa, mengapa aku harus memohon Pengampunan dari Allah? Aku tidak berbuat apa-apa&quot;. Bahkan setiap orang memohon pengampunan akan berkata,&quot;Mengapa memohon pengampunan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah berbuat yang terbaik! Kami tidak melakukan hal yang salah. Semuanya baik-baik saja.&quot; Setidaknya hal yang membuat mereka memohon pengampunan menandakan mereka tidak melupakan Allah yang Maha Kuasa. <br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Do&rsquo;a yang dipanjatkan Nabi sallallahu alaihi wasalam,&quot;Oh Tuanku, jangan biarkan aku melupakan Engkau, ketika aku melupakan Engkau, aku terjerembab dalam kegelapan.&quot; Dosa terbesar adalah melupakan Pencipta kita. Bagaimana mungkin kalian dapat melupakan Dia dalam setiap hembus nafas kalian? Setan berbuat sesuatu tanpa berpikir. astaghfirullah. Melupakan Dia merupakan dosa terbesar. Apabila kalian melupakan Tuhanmu Allah yang Maha Kuasa artinya kalian hanya tinggal bersama egomu, Tidak ada Tuhan bagimu, melupakan Dia berarti meninggalkanNya, melupakan Tuanmu berarti pula menerima bahwa tidak ada Sang Pencipta,&quot;Kau bukan lagi yang mengendalikan aku&quot;. <br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Begitu pula halnya dengan ilmuwan, bahkan sebuah kartu ATM kita katakan sebagai benda terkecil yang pernah ada. Siapa yang menciptakan atom? Dia! Dia yang mengendalikan! Bagaimana dengan dirimu sendiri? Berpikir bahwa kamu tidak dikendalikan? Jika kalian mengklaim bahwa kalian tidak dikendalikan, lalu kalian sama seperti lembu melintasi padang rumput tanpa berpikir bahwa dirinya dikendalikan. Karena pengertian tersebut bukan tingkatan lembu. Tapi lembu memiliki pengertian/pengetahuan lain, lembu mengerti bahwa keberadaaan mereka karena seseorang. Lembu tidak pernah berkata kita ada dengan sendirinya, seperti manusia-manusia bodoh yang berkata, &quot;Kami ada karena diri kami (dilahirkan dari manusia .Red), itulah ketidak pedulian terbesar. Tidak ada yang mengerti disini, manusia bodoh! Seperti penghuni padang rumput, berikan perhatian kalian padaKu!<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Ketidakpedulian terbesar bagi manusia abad 21 adalah tidak menerima adanya kendali yang mengendalikan mereka. Tetapi mereka menerima atom, bahwa atom pasti dikendalikan. Tanpa kendali, bagaimana mungkin atom menjadi ada? Apakah atom ada dengan sendirinya? Atom diatur keberadaaannya tanpa satupun kendali dari luar? Siapakan yang membuat titik tengah atom? Siapakah yang membuat elektron yang mengitari atom? Siapakah yang memberikan kecepatan cahaya?<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Namun manusia tidak memikirkannya dan tetap berkata,&quot;Tidak ada yang mengendalikan&quot;. Tapi tidak mungkin atom tidak ada yang mengendalikan, jadi bagaimana dengan diri kita sendiri? Kalian mungkin merupakan suatu kumpulan atom, mungkin trilyun, quatrilion, dewasalah dalam berpikir, bagaimana mungkin (kumpulan atom) tidak dikendalikan? Manusia sedang mabuk sekarang dengan mengatakan, &quot;Tidak ada Tuhan&quot;. Bagaimana bisa mereka mengatakan hal tersebut? <br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Dan mereka pun mencegah &quot;Allah&quot; diucapkan disekolah-sekolah! Kebodohan macam apa itu! Bagaimana kalian dapat mengklaim bahwa tidak ada yang mengendalikan matahari, lautan yang melintasi benua-benua? Dan mereka juga mengatakan bahwa ini adalah pengetahuan yang positif. Apakah positif itu? Kera pun menertawakan. Keledai berkata,&quot;Oh profesor, aku mengetahui bahwa aku dikendalikan, dan aku tahu bahwa yang mengendalikan aku melalui (perantara) tangan umat manusia, kini kalian mengatakan tidak ada kendali, kau lebih rendah daripada keledai&quot;. Tamat. Karena umat manusia setara dengan sampah, maka buanglah ke tempat sampah.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Demikianlah perkataan awliya, akan ada angin topan kematian, darah diganti darah. Bukan darah diganti air, darah diganti darah. Karena mereka mengatakan,&quot;Tidak ada kendali&quot;. Setidaknya katakan,&quot;Kami dikendalikan, dialah Sang Pengendali!&quot; Siapakah yang dapat menjadi Sang Pengendali? Abad 21 adalah abad puncak ketidakpedulian. Saling menyakiti satu sama lain. (Tapi) mereka mengelak, hukuman baru akan dimulai. Hari ini lebih baik dari besok, dan hari kemarin jauh lebih cocok dibanding hari ini. Setiap hari makin memburuk. Karena manusia menolak mempelajari Kebenaran atau kenyataan sesungguhnya.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Mereka mabuk, tidak pernah mengerti apapun, tidak pernah bertanya,&quot;Mengapa hal ini terjadi?&quot; Matahari terbit dan terbenam. Bagaimana dunia yang kita tempati ini dapat berputar dan dalam waktu yang sama sistem matahari berputar dengan arah yang berbeda, orbit, dan galaksi kita juga memiliki orbit berbeda, berputar.. berputar.. berputar&hellip;siapa yang membuatnya?&quot; Manusia binasa. Allah yang Maha Kuasa bersabda,&quot;Aku memberikan SumpahKu bahwa Aku yang membuat mereka, mengendalikan mereka, semua manusia yang tidak peduli, orang-orang yang lengah, di suatu tempat yang seharusnya mereka dihukum selamanya dan berada dalam Kutukan Surga hingga selamanya&quot;.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Oh manusia! Waktu yang kita miliki amatlah pendek! Kita jangan mengumpulkan dunya ataupun mengumpulkan uang, jangan. Tetapi kita dikirim ke bumi sebagai kalifah dari Surga! Dan Dia telah memberkati kita untuk menjadi kalifahNya dibumi. Untuk mengumpulkan hal-hal baik, mengumpulkan hal-hal berharga, bukan untuk mengejar hal-hal buruk dibumi, itu tidak bernilai. Tapi itulah pengajaran dari setan, sistem setan, dari timur ke barat, utara ke selatan, (manusia) menjalankannya. Semoga Allah mengampuni kita.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Oh manusia, segala sesuatu ada batasnya, begitupun hidup kita, kita datang dan kemudian pergi.Semua ada batasnya. Ketika sesuatu telah mencapai batasnya, maka selesailah. Jangan berpikir bahwa kehidupan umat manusia akan berlangsung selamanya, tidak. Suatu hari jiwa mereka, kekuatan spiritual mereka, suatu hari Allah yang Maha Kuasa akan datang mengumpulkan mereka semua, kemudian mereka akan bergelimpangan seperti mayat. Mendekat.Mendekat. Dunya bukan sesuatu yang baru. Jangan berpikir bahwa gedung-gedung tinggi dan teknologi membuat dunya menjadi baru, tidak. Siapakah yang menciptakan dunia, meletakkan batasan diplanet ini. Suatu hari planet ini akan menghilang oleh Perintah Suci.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Semuanya seharusnya akan muncul padang lain dibumi. Semuanya menjadi seperti pasir. Kalian tidak dapat menemukan sebuah batu, kalian tidak dapat menemukannya, karena banyak gempa bumi yang kuat, bahkan gunung-gunungpun saling berlomba menjadi langit, (maka bumi akan menjadi) seperti padang pasir.&nbsp; Lalu Allah yang Maha Kuasa akan mengumpulkan mereka agar datang, datang kepadaNya, untuk menghadapi pengadilan. Allah yang Maha Kuasa memberikan TimbanganNya untuk semua umat manusia. Dan waktu tersebut makin dekat, karena tanda-tandanya bermunculan. Dan Nabi sallallahu alaihi wasalam dan orang-orang yang beriman. <br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Nabi (saw) pernah bersabda,&quot;Apabila bangsaku berada dijalan yang lurus menuju yang maha benar, Allah yang Maha Kuasa akan memberikan perpanjangan satu hari. Jika mereka menuju jalan setan, maka hidup mereka berkurang setengah hari. Dan setengah hari, datang, satu hari dihadapan Allah yang Maha Kuasa sama dengan 1000 tahun. Artinya sisa hidup 500 tahun. Mereka yang mengikuti syariah kemudian meninggalkan syariah. Kalian tidak akan menemukan sebuah negara yang mengikuti Perintah Suci. <br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Saat ini telah berjalan 1400 tahun, artinya 100 (sisa) tahun. {Shaykh Nazim berkata tentang hal serupa beberapa bulan lalu, mungkin yang dimaksud bahwa telah 1000 tahun hidup menjalankan syariah, sehingga tersisa sekitar 500 tahun (manusia) mengikuti setan, yang memberikan kita waktu kira-kira 73 tahun lagi, bila dihitung saat ini kita ada ditahun 1427 hijriah, bila saya tidak salah mengartikan. }<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Kemudian tanda-tanda yang ada mengatakan bahwa ada satu perang besar, Armageddon, Malhamah Kubro. Dunya akan derada ditengah-tengah perang terbesar. Maka berlarianlah manusia dibumi. Siapa yang meraih hari-hari baik, siapa yang menjadi hamba yang murni, siapa yang hidup untuk Tuannya, mereka berada dalam Perlindungan, mereka terlindungi. Jika hidup untuk memenuhi ego, keinginan fisik, maka akan dibawa pergi.<br /> &nbsp;&nbsp; <br /> &nbsp; Semoga Allah mengampuni kita dan memberikan kita cahaya dan pengertian tentang apa yang sedang terjadi disekitar kita. Disemua tempat banyak reklame mengikuti jalan yang salah, melawan Perintah Suci. Dan mereka berlari mencari jalan, mereka pun terjerembab. Semoga Allah mengampuni dan memberkati kita demi kehormatan yang paling terhormat dalam Kehadirat Illahi, Sayyidina Muhammad (SAW)</p>
	<p align="justify">Dalam renungku&hellip;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/07/ampunanmu-adalah-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali Kefitrah&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/04/kembali-kefitrah/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/04/kembali-kefitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Nov 2006 10:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/04/kembali-kefitrah/</guid>
		<description><![CDATA[	Orang yang menunaikan puasa selama bulan Ramadan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa, kembali suci. Hal itu karena Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu; ia keluar dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. 
	Akan tetapi, apakah pengampunan dari Allah itu akan kita dapat hanya dengan kita melaksanakan puasa saja? Apakah hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Orang yang menunaikan puasa selama bulan Ramadan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa, kembali suci. Hal itu karena Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu; ia keluar dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. </p>
	<p align="justify">Akan tetapi, apakah pengampunan dari Allah itu akan kita dapat hanya dengan kita melaksanakan puasa saja? Apakah hanya dengan menghentikan sejenak aktivitas maksiat hanya pada bulan Ramadan, sedangkan nanti setelah Ramadan dilanjutkan lagi maksiatnya? Ataukah orang yang melaksanakan puasa Ramadan dengan menghiasinya dengan melakukan ibadah taqarub ilallah yang lebih dibandingkan bulan-bulan biasa? </p>
	<p align="justify">Kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan menetapi fitrah, yakni menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran. Jadi, kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan terus mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran. </p>
	<p align="justify"><a id="more-7"></a><img hspace="5" height="176" border="0" align="left" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" /></p>
	<p align="justify">Puasa Ramadan dan serangkaian aktivitas Ramadan sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita menyadari dan memahami fitrah kita. Fitrah itu akan terus berkembang, menjadikan dirinya selalu siap menerima kebenaran. Puasa akan menjadikan ia lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai makhluk yang diliputi keserbalemahan dan keterbatasan. Dengan begitu ia akan lebih merasa membutuhkan Penciptanya, membutuhkan petunjuk dari-Nya. </p>
	<p align="justify">Fitrah mengharuskan manusia hanya menerima agama, ideologi dan sistem hidup yang memang sesuai dengan fitrahnya. Manusia akan terdorong oleh fitrahnya untuk mencari agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah. </p>
	<p align="justify">Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah hanya bisa menerima aturan yang sesuai dengannya. Oleh karena itu, kembali ke fitrah dengan menetapinya dan mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap menerima kebenaran mengharuskan kita hanya menerima Islam dan menolak semua agama dan ideologi selain Islam. Sebab, hanya Islam yang sesuai dengan fitrah. </p>
	<p align="justify">Kembali kepada fitrah adalah kembali pada akidah dan syari&rsquo;ah Islam. Dengan itu manusia akan selamat dari segala macam bentuk kerusakan dan akan menikmati kehidupan yang dipenuhi kebaikan, kesejahteraan, dan berkah dari Allah, Tuhan semesta alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/04/kembali-kefitrah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sesaat Sebelum TakBir&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/01/sesaat-sebelum-takbir/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/01/sesaat-sebelum-takbir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Nov 2006 21:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/01/sesaat-sebelum-takbir/</guid>
		<description><![CDATA[	Kuingat dulu begitu di tunggu-tunggu saat seruanMu dikumandangkan dari sejak isya sampai lepas subuh, bahkan, sampai matahari menyonsong hari yg fitri itu. hati ini turut bergembira menyambut hari kemenangan. Mungkin aku bukan seorang yg religius, namun tetap kurasakan kegembiraan itu. Namun seiring dgn waktu kurasakan begitu sepi, begitu jauh, begitu datar, begitu hampa. tak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Kuingat dulu begitu di tunggu-tunggu saat seruanMu dikumandangkan dari sejak isya sampai lepas subuh, bahkan, sampai matahari menyonsong hari yg fitri itu. hati ini turut bergembira menyambut hari kemenangan. <img hspace="5" height="176" border="0" align="left" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" />Mungkin aku bukan seorang yg religius, namun tetap kurasakan kegembiraan itu. Namun seiring dgn waktu kurasakan begitu sepi, begitu jauh, begitu datar, begitu hampa. tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi keriaan, tak ada lagi saat2 yg ditunggu-tunggu itu. yg ada hanya kegalauan, kecemasan, keheningan, kebosanan, kehampaan&#8230;. </p>
	<p align="justify">Semoga kita masih diberikanNya kekuatan dan umur panjang untuk kembali menyambut, utk kembali merasakaan kegembiraan itu, utk kembali merayakan saat yg paling di nanti-nanti itu. utk kembali menyadari arti fitri yg sebenar-benarnya, yg sesungguh-sungguhnya. tidak hanya sekedar menjalankan sebuah kewajiban bagaikan buruh yg selalu mengeluh tiada henti. ajarkan kami agar pandai bersyukur ya Allah</p>
	<p align="justify">kembali sepi, hening, kembali&#8230;.merenung&#8230;</p>
	<p align="justify"></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/11/01/sesaat-sebelum-takbir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Marilah Saling Berbagi Maaf&#8230;</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/29/marilah-saling-berbagi-maaf/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/29/marilah-saling-berbagi-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Oct 2006 20:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/29/marilah-saling-berbagi-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[	Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa melainkan ciri orang pendendam. Berbagai penyakit fisik mental dimasak matang dalam dada orang yang menyimpan kemarahan. Karena itu, psikolog menyarankan untuk mencari cara paling aman untuk meredam kemarahan.
	Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa melainkan ciri orang pendendam. Berbagai penyakit fisik mental dimasak matang dalam dada orang yang menyimpan kemarahan. Karena itu, psikolog menyarankan untuk mencari cara paling aman untuk meredam kemarahan.</p>
	<p align="justify">Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. Dale Carnegie, seorang penulis populer, saat menawarkan kiat untuk menghilangkan rasa cemas menulis, &#8216;&#8217;Anda tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh Anda. Akan tetapi, demi kesehatan dan kebahagiaan Anda, lupakan mereka dan maafkan mereka.'&#8217;</p>
	<p align="justify">Namun, memaafkan tidak gampang. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus-menerus. Sifat pemaaf harus tumbuh karena &#8216;&#8217;kedewasaan rohaniah'&#8217;. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab di antara dua kekuatan : pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Rohani mereka telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine). </p>
	<p align="justify"><a id="more-4"></a>Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial dengan upacara pemutihan seperti halalbihalal. Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Orang yang hanya memperhatikan dirinya tak akan pernah dapat memaafkan. </p>
	<p align="justify">Pada hakikatnya, orang egois adalah anak kecil yang menduga bahwa dunia diciptakan untuk memenuhi keinginannya. Salah satu akibat buruk dari kekuasaan adalah anggapan pengkhidmatan orang lain pada dirinya adalah kewajiban.</p>
	<p align="justify"><img hspace="5" height="176" border="0" align="right" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" /></p>
	<p align="justify">Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatikan kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain dari egoisme kepada altruisme. Orang-orang altruis, dalam Alquran disebut orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun). Nabi Muhammad sangat terkenal sebagai orang yang pemaaf. Beliau taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakiti dan yang mengusirnya dari tanah airnya. </p>
	<p align="justify">Menahan marah tanpa memaafkan hanya akan menumpuk penyakit. Memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial. </p>
	<p align="justify">Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus.</p>
	<p align="justify">Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang takwa. Namun ciri orang takwa bukan hanya suka memaafkan. Dia juga mampu meminta maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sulit dari memaafkan. Karena itu, setelah ketiganya, Tuhan menjelaskan sifat berikut dari orang takwa: &#8216;&#8217;Orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa, mereka ingat kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah. Dan, ia tidak mengulangi lagi apa yang dikerjakannya padahal mereka mengetahuinya'&#8217; (QS 3:135). (92j)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/29/marilah-saling-berbagi-maaf/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Pahala Dalam Hidup</title>
		<link>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/28/hello-world/</link>
		<comments>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/28/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2006 23:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renungan qolbu</dc:creator>
		
	<category>renungan qolbu</category>
		<guid>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/28/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[	Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian &ndash; ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan hablum-minannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan &ldquo;aturan main&rdquo; bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><img hspace="10" height="176" border="0" align="left" width="129" vspace="5" src="http://renunganqolbu.blogsome.com/images/lomba.gif" alt="Lomba Blog" title="Lomba Blog" />Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian &ndash; ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur <em>hablum-minallah</em> dan <em>hablum-minannas</em>. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan &ldquo;<strong>aturan main</strong>&rdquo; bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur <em>hablum-minallah</em> manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur <em>hablum-minannas</em> manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua &ldquo;<strong>aturan main</strong>&rdquo; ini tertuang lengkap dalam Al-Qur&rsquo;an dan Hadits Rasulullah saw.<br /> &nbsp;</p>
	<p align="justify">Barang siapa yang dapat tetap patuh melaksanakan &ldquo;aturan main&rdquo; ini, dengan niat semata-mata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur hablum-minallah dan hablum-minannas, karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang ditentukan-Nya dalam Al-Qur&rsquo;an dan Hadits.</p>
	<p align="justify"><a id="more-1"></a>Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. &ldquo;Perlengkapan&rdquo; ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi baik ataupun buruk ia mampu tetap taat mengikuti &ldquo;aturan main&rdquo; yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak.</p>
	<p align="justify">Simaklah baik-baik surat Al-Insaan:2,3 berikut :</p>
	<p><strong>Sesungguhnya kami telah menciptakan Manusia dari setetes mani yang Bercampur yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan ), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya Jalan yang lurus, ada yang bersyukur Dan ada pula yang kafir.</strong> </p>
	<p align="justify">Al-Insaan (76):2,3</p>
	<p align="justify">Supir <em>ugal-ugalan</em> di jalan raya, atasan yang <em>menjengkelkan</em>, kolega yang <em>picik</em>, ataupun teman yang <em>menyebalkan</em>, ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga, dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negative ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur <em>hablum-minannas</em>. Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan-Nya melalui Rasul-Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila mereka kita hadapi dengan emosi dan nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, &ldquo; <strong>Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.</strong>&rdquo;</p>
	<p align="justify">Dengan demikian, dapatlah dimengerti, bahwa semua masalah, baik itu masalah hubungan dengan Allah ( seperti misalnya rasa malas mendirikan shalat ), maupun masalah hubungan dengan manusia ( misalnya menghadapi orang yang menyebalkan , pada hakikatnya adalah hendak menguji, mampu atau tidak kita bersikap sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Bila kita dapat bertindak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur&rsquo;an dan hadits dengan niat &ldquo; lillahi ta&rsquo;ala &ldquo;, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila masalah itu kita hadapi dengan nafsu, berarti kita gagal. Begitulah medan perjalanan yang harus ditempuh manusia dalam menuju surga. Dalam perjalanan itu pasti akan ditemui halangan dan rintangan yang kesemuanya itu merupakan ujian apakah kita mampu mengatasinya atau tidak. Tidak ada seorangpun manusia yang dibiarkan&nbsp; melalui jalan yang tanpa rintangan. Bahkan para kekasih-Nya sendiri, yaitu para nabi-nabi, melewati jalan yang jauh lebih sulit. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih puteranya sendiri; sementara nabi Ayub dimusnahkan seluruh harta kekayaanya dan keturunannya, serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan. Sedangkan nabi Muhammad dilempari kotoran unta dan batu serta diboikot perekonomiannya sehingga beliau dan keluarganya serta para pengikutnya mengalami kelaparan yang amat sangat akibat kekurangan bahan makanan. Namun perlu kita ingat, bila ujian-ujian yang ditemui dalam perjalanan ini berhasil diatasi, maka hal-hal itu akan diperhitungkan Allah sebagai amal saleh, yang kelak akan diganjar dengan pahala. Semakin banyak amal saleh yang kita lakukan, maka akan semakin besar pula peluang kita untuk masuk ke dalam surga. Lihatlah penegasan Allah dalam Al-Qur&rsquo;an berikut ini :</p>
	<p><strong>Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal Saleh baik ia laki-laki maupun perempuan Sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka Itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak Dianiaya Walau sedikit pun.</strong> </p>
	<p align="justify">An-Nisaa&rsquo; (4):124</p>
	<p> <strong>Dan surga itu diberikan kepada kamu Berdasarkan amal yang telah kamu kerjakan</strong>. </p>
	<p align="justify">Az-Zuhruf (43):72</p>
	<p align="justify"><strong>Sesungguhnya orang-orang yang beriman Dan beramal saleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka Kekal didalamnya, mereka tidak ingin Berpindah daripadanya</strong>.</p>
	<p align="justify">Al-Kahfi (18):107,108</p>
	<p><strong>Dan orang-orang yang beriman dan me-Ngerjakan amal-amal saleh, kelak akan kami Masukan mereka ke dalam surga</strong> &hellip;.. </p>
	<p align="justify">An-Nisaa&rsquo; (4):57</p>
	<p align="justify"><strong>Dan orang-orang yang beriman dan Mengerjakan amal-amal saleh, kami tidak Memikulkan kewajiban kepada diri seseorang Melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni-penghuni surga, Mereka kekal di dalamnya</strong>.</p>
	<p align="justify">Al-A&rsquo;raaf (7):42<br /> &nbsp;</p>
	<p align="justify">Dengan memahami hal tersebut di atas, akan dapat mencegah kita tertipu dan terlena mengikuti emosi atau pikiran yang negative, sehingga tidak akan menyimpang dari <em>aturan main</em> yang ditetapkan-Nya. Dan, insya Allah, kita tidak akan mengalami stress ataupun menjadi pendendam.</p>
	<p align="justify">Sebagaimana telah diketahui, kekuatan manusia yang paling dahsyat dalam mengatasi ujian-ujian Allah adalah hati (kalbu). Oleh karena itu kita harus pandai-pandai merawat hati agar ia tidak menjadi rusak [ Asy-Syam (91):9-10 ]. Adapun salah satu kiat untuk menjaga hati, adalah dengan mengendalikan mata. Bila direnungkan, mata pada hakikatnya adalah hanya alat (<em>scanner</em>) yang memasukan informasi ke dalam hati. Informasi yang masuk ke dalam hati ini, akan menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada seorang penderita penyakit kusta. Bila yang difokuskan oleh mata adalah penyakitnya, maka niscaya hati akan memunculkan kesan jijik. Tetapi bila yang difokuskan oleh mata segi manusia-winya, maka yang timbul adalah rasa iba. Dikisahkan bahwa nabi isa as, ketika berjalan dengan para muridnya, pernah menemukan bangkai seekor anjing. Para muridnya serentak menutup hidung sambil menunjukan rasa jijiknya. Namun nabi Isa as, tersenyum seolah-olah ia tidak melihat ada bangkai dihadapannya. Beliau berkata, &ldquo;<em>Coba lihat giginya, betapa putihnya!</em>&rdquo;</p>
	<p align="justify">Inti pelajaran yang diberikan oleh nabi Isa as. itu ialah, <strong>bila mata dapat dikendalikan hanya untuk melihat kejadian dari sudut pandang positif saja, maka niscaya hati tidak akan memunculkan kesan negatif</strong>.</p>
	<p align="justify">Kita dapat menggunakan &ldquo;ilmu&rdquo; nabi isa tersebut untuk meredam rasa iri hati yang kadang-kadang muncul secara spontan ketika mendengar ada teman kita yang lebih sukses atau lebih kaya dari kita.&nbsp; Caranya yaitu dengan tidak memandang pada pangkat atau harta yang dimilikinya, tetapi dengan mengingat kenyataan bahwa soal rezeki memang dibuat Allah berbeda-beda. Hal ini dilakukan-Nya semata-mata untuk menguji manusia. Ingatlah pesan dari Abdullah bin Mas&rsquo;ud ra., &ldquo;<strong>Relakanlah hatimu dengan sesuatu yang Allah berikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.</strong> &ldquo;</p>
	<p align="justify"><strong>Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa Yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu Lebih banyak dari sebagian yang lain.</p>
	<p> </strong>An-Nisaa&rsquo; (4):32</p>
	<p align="justify">Bila kebetulan kita termasuk orang yang dikaruniai banyak harta, maka hendaklah disadari, bahwa harta itu letaknya harus selalu ditangan, jangan biarkan ia menguasai hati. Ingatlah bahwa harta cenderung mengajak pemiliknya untuk membangkang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya.</p>
	<p align="justify"><em>Rasulullah saw, bersabda : &ldquo;Tuhanku Telah menawarkan kepadaku untuk men-Jadikan lapangan di kota Mekah menjadi Emas. Aku berkata, &ldquo;Jangan Engkau jadikan emas wahai Tuhan! Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang Sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar, maka aku Dapat menghadap dan mengingat-Mu, Dan ketika aku kenyang aku dapat Bersyukur memuji-Mu. &ldquo;</p>
	<p> </em>HR Ahmad &amp; Tarmidzi</p>
	<p align="justify"><em>&ldquo;Sesungguhnya Allah tidak melihat ke-Pada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat Kepada hati dan amalmu.&rdquo;</p>
	<p> </em>HR Muslim</p>
	<p align="justify">Aku Tertunduk Memujamu Tuhanku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renunganqolbu.blogsome.com/2006/10/28/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
