Kembali Kefitrah…
Orang yang menunaikan puasa selama bulan Ramadan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa, kembali suci. Hal itu karena Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu; ia keluar dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.
Akan tetapi, apakah pengampunan dari Allah itu akan kita dapat hanya dengan kita melaksanakan puasa saja? Apakah hanya dengan menghentikan sejenak aktivitas maksiat hanya pada bulan Ramadan, sedangkan nanti setelah Ramadan dilanjutkan lagi maksiatnya? Ataukah orang yang melaksanakan puasa Ramadan dengan menghiasinya dengan melakukan ibadah taqarub ilallah yang lebih dibandingkan bulan-bulan biasa?
Kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan menetapi fitrah, yakni menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran. Jadi, kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan terus mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran.
Puasa Ramadan dan serangkaian aktivitas Ramadan sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita menyadari dan memahami fitrah kita. Fitrah itu akan terus berkembang, menjadikan dirinya selalu siap menerima kebenaran. Puasa akan menjadikan ia lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai makhluk yang diliputi keserbalemahan dan keterbatasan. Dengan begitu ia akan lebih merasa membutuhkan Penciptanya, membutuhkan petunjuk dari-Nya.
Fitrah mengharuskan manusia hanya menerima agama, ideologi dan sistem hidup yang memang sesuai dengan fitrahnya. Manusia akan terdorong oleh fitrahnya untuk mencari agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah.
Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah hanya bisa menerima aturan yang sesuai dengannya. Oleh karena itu, kembali ke fitrah dengan menetapinya dan mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap menerima kebenaran mengharuskan kita hanya menerima Islam dan menolak semua agama dan ideologi selain Islam. Sebab, hanya Islam yang sesuai dengan fitrah.
Kembali kepada fitrah adalah kembali pada akidah dan syari’ah Islam. Dengan itu manusia akan selamat dari segala macam bentuk kerusakan dan akan menikmati kehidupan yang dipenuhi kebaikan, kesejahteraan, dan berkah dari Allah, Tuhan semesta alam.
