Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa melainkan ciri orang pendendam. Berbagai penyakit fisik mental dimasak matang dalam dada orang yang menyimpan kemarahan. Karena itu, psikolog menyarankan untuk mencari cara paling aman untuk meredam kemarahan.
Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. Dale Carnegie, seorang penulis populer, saat menawarkan kiat untuk menghilangkan rasa cemas menulis, ‘’Anda tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh Anda. Akan tetapi, demi kesehatan dan kebahagiaan Anda, lupakan mereka dan maafkan mereka.'’
Namun, memaafkan tidak gampang. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus-menerus. Sifat pemaaf harus tumbuh karena ‘’kedewasaan rohaniah'’. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab di antara dua kekuatan : pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Rohani mereka telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine).
Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial dengan upacara pemutihan seperti halalbihalal. Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Orang yang hanya memperhatikan dirinya tak akan pernah dapat memaafkan.
Pada hakikatnya, orang egois adalah anak kecil yang menduga bahwa dunia diciptakan untuk memenuhi keinginannya. Salah satu akibat buruk dari kekuasaan adalah anggapan pengkhidmatan orang lain pada dirinya adalah kewajiban.
Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatikan kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain dari egoisme kepada altruisme. Orang-orang altruis, dalam Alquran disebut orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun). Nabi Muhammad sangat terkenal sebagai orang yang pemaaf. Beliau taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakiti dan yang mengusirnya dari tanah airnya.
Menahan marah tanpa memaafkan hanya akan menumpuk penyakit. Memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial. Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus.
Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang takwa. Namun ciri orang takwa bukan hanya suka memaafkan. Dia juga mampu meminta maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sulit dari memaafkan. Karena itu, setelah ketiganya, Tuhan menjelaskan sifat berikut dari orang takwa: ‘’Orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa, mereka ingat kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah. Dan, ia tidak mengulangi lagi apa yang dikerjakannya padahal mereka mengetahuinya'’ (QS 3:135). (92j)
