November 17, 2006

Mengapa Meminta Maaf…

Filed under: renungan hari ini

Mempercepat permohonan maaf itu sangatlah baik sebab manusia tidak tahu waktu yang pasti kapan kita meninggal dunia. "Apakah kita tahu seandainya kita masih diberi kehidupan oleh Allah sehingga kita harus menunggu Ramadan atau Idul Fitri untuk meminta maaf.

Sikap memaafkan merupakan salah satu cerminan akhlak yang mulia. Pemaaf atau mudah memaafkan, jauh lebih maslahat daripada menunda-nunda memaafkan.

Bila ada rekan yang menghina kita, segeralah memaafkan kesalahannya. Karena, memaafkan itu adalah bagian dari dakwah kita. Berikanlah keteladanan kepada orang lain untuk berbuat baik, memaafkan atau membuka pintu maaf selebar-lebarnya walau orang yang berbuat salah itu belum minta maaf.

Baca Selengkapnya... Baca Selengkapnya…

November 8, 2006

Maaf dari hati…

Filed under: renungan qolbu

Kata "Maaf memafkan"sudah merupakan satu tradisi di Indonesia dan di beberapa negara-negara lainnya menjelang hari Raya Idul Fitri ini untuk saling mengucapkan kalimat yang indah  "Mohon maaf lahir dan batin". Entah ini diucapkan secara lisan, berupa SMS, email, maupun melalui kartu Lebaran. Rasanya dunia ini menjadi begitu damai dan penuh dengan rasa kasih menjelang Idul Fitri ini. Hanya yang menjadi pertanyaan apakah mungkin setelah kita melewati hari Raya Idul Fitri kita benar-benar dapat memulai dari Nol atau dari lembaran putih bersih lagi dengan prinsip a new beginning, a new chapter ?

Lihat saja berapa banyak sudah kita menerima permohonan maaf tsb, bukan saja dari orang yang kita kenal bahkan dari orang yang tidak kita kenal sekalipun juga, jadi bagaimana kita dapat memaafkan mereka, padahal kita sendiri belum mengenalnya sama sekali. Dan percaya atau tidak, mereka mengirimkan bukan hanya sekedar basa-basi atau lipservice saja, melainkan karena sudah dari sananya dicetak sebagai dekorasi kartu saja, jadi maknanya kosong melompong sama sekali.

Pernahkan Anda merenungkan kalimat mohon maaf tersebut sebelum Anda mengirimkan kartu, Email atau SMS ? Permohonan maaf yang kita kirimkan hanya sekedar permohonan maf yang sesungguhnya sudah ada dalam format cetak dan tulisan yang kita kirmkan saja.

Kita mengirim kartu dan mengucapkan ?Mohon maaf lahir batin? tanpa perlu dipikirkan lagi, itu otomatis bisa keluar langsung begitu saja, karena ini sudah merupakan tradisi atau karena sudah dicetak di dalam kartunya. Sehingga kadang kita tidak sadar arti sebuah kata maaf yang esensinya adalah ada karena kebutuhan batin kita untuk mensucikannya.

Baca Selengkapnya... Baca Selengkapnya…

November 7, 2006

AmpunanMU adalah Segalanya…

Filed under: renungan qolbu

Hanya Dialah, yang dapat melakukan apapun yang Dia Kehendaki. Seluruh kekuatan milikNya, Allah Maha Kuasa. Kita bukan siapa-siapa. Tapi Dia mendandani kalian, oh anak Adam, mendandani dengan kehambaan. Dan itulah tingkatan tertinggi, atau kehormatan tertinggi bagi kalian, anak Adam, perintah dari Allah Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mulia, Maha Kuasa Allah, dengan segala sesuatu ada melalui TanganNya.

Audzubillahimina shaytanirajim, dan kita berlari dari setan kepada Allah. Kalian tidak bisa berbuat apapun untuk setan. Dan kita mengucap bismillahiRahmanirahim dan meminta "tawwaju". Laksana sinar matahari sampai ke bumi, dan Allah Maha Kuasa memberi pakaian yang berbeda-beda kepada hamba-hambaNya, sehingga Cahaya Illahi dapat bersinar dalam hati kalian. Jika (tidak karena pakaian tersebut), maka tidak ada Kekuatan Suci, tidak ada satupun dapat meraih Cahaya Surga, Cahaya Surga tidak bisa diraih. Karenanya, tidak ada yang memohon kepada Allah Maha Kuasa untuk memberikan pengampunanNya. O, Tuan kami, ampunilah kami!
  
  Mereka berkata, "Mengapa kami memerlukan pengampunan? Memang apa yang kami lakukan?" "Kami tidak melakukan hal-hal yang buruk." Mereka berkata,"Kami orang yang tak berdosa." Itu pernyataan yang bodoh. Pembual, jika berkata,"Mengapa kita berbuat hal yang salah?, kemudian memohon pengampunan dari Allah?"! Mereka berpikir apapun yang mereka lakukan benar adanya. Mereka berpikir mereka tanpa berdosa. Mereka bahkan berpikir tidak pernah berbuat dosa dengan berkata,"Oh Tuanku, ampunilah kami". Itulah ide setan.
  
  Setan berkata,"Aku tidak melakukan perbuatan dosa, mengapa aku harus memohon Pengampunan dari Allah? Aku tidak berbuat apa-apa". Bahkan setiap orang memohon pengampunan akan berkata,"Mengapa memohon pengampunan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah berbuat yang terbaik! Kami tidak melakukan hal yang salah. Semuanya baik-baik saja." Setidaknya hal yang membuat mereka memohon pengampunan menandakan mereka tidak melupakan Allah yang Maha Kuasa. 
  
Baca Selengkapnya... Baca Selengkapnya…

November 4, 2006

Kembali Kefitrah…

Filed under: renungan qolbu

Orang yang menunaikan puasa selama bulan Ramadan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa, kembali suci. Hal itu karena Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu; ia keluar dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.

Akan tetapi, apakah pengampunan dari Allah itu akan kita dapat hanya dengan kita melaksanakan puasa saja? Apakah hanya dengan menghentikan sejenak aktivitas maksiat hanya pada bulan Ramadan, sedangkan nanti setelah Ramadan dilanjutkan lagi maksiatnya? Ataukah orang yang melaksanakan puasa Ramadan dengan menghiasinya dengan melakukan ibadah taqarub ilallah yang lebih dibandingkan bulan-bulan biasa?

Kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan menetapi fitrah, yakni menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran. Jadi, kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan terus mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran.

Puasa Ramadan dan serangkaian aktivitas Ramadan sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita menyadari dan memahami fitrah kita. Fitrah itu akan terus berkembang, menjadikan dirinya selalu siap menerima kebenaran. Puasa akan menjadikan ia lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai makhluk yang diliputi keserbalemahan dan keterbatasan. Dengan begitu ia akan lebih merasa membutuhkan Penciptanya, membutuhkan petunjuk dari-Nya.

Fitrah mengharuskan manusia hanya menerima agama, ideologi dan sistem hidup yang memang sesuai dengan fitrahnya. Manusia akan terdorong oleh fitrahnya untuk mencari agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah.

Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah hanya bisa menerima aturan yang sesuai dengannya. Oleh karena itu, kembali ke fitrah dengan menetapinya dan mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap menerima kebenaran mengharuskan kita hanya menerima Islam dan menolak semua agama dan ideologi selain Islam. Sebab, hanya Islam yang sesuai dengan fitrah.

Kembali kepada fitrah adalah kembali pada akidah dan syari’ah Islam. Dengan itu manusia akan selamat dari segala macam bentuk kerusakan dan akan menikmati kehidupan yang dipenuhi kebaikan, kesejahteraan, dan berkah dari Allah, Tuhan semesta alam.

November 1, 2006

Sesaat Sebelum TakBir…

Filed under: renungan qolbu

Kuingat dulu begitu di tunggu-tunggu saat seruanMu dikumandangkan dari sejak isya sampai lepas subuh, bahkan, sampai matahari menyonsong hari yg fitri itu. hati ini turut bergembira menyambut hari kemenangan. mungkin aku bukan seorang yg religius, namun tetap kurasakan kegembiraan itu. namun seiring dgn waktu kurasakan begitu sepi, begitu jauh, begitu datar, begitu hampa. tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi keriaan, tak ada lagi saat2 yg ditunggu-tunggu itu. yg ada hanya kegalauan, kcemasan, kehenngan, kebosanan, kehampaan….

semoga kita masih diberikanNya kekuatan dan umur panjang untuk kembali menyambut, utk kembali merasakaan kegembiraan itu, utk kembali merayakan saat yg paling di nanti-nanti itu. utk kembali menyadari arti fitri yg sebenar-benarnya, yg sesungguh-sungguhnya. tidak hanya sekedar menjalankan sebuah kewajiban bagaikan buruh yg selalu mengeluh tiada henti. ajarkan kami agar pandai bersyukur ya Allah

kembali sepi, hening, kembali….merenung…

October 29, 2006

Marilah Saling Berbagi Maaf…

Filed under: renungan qolbu

Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa melainkan ciri orang pendendam. Berbagai penyakit fisik mental dimasak matang dalam dada orang yang menyimpan kemarahan. Karena itu, psikolog menyarankan untuk mencari cara paling aman untuk meredam kemarahan.

Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. Dale Carnegie, seorang penulis populer, saat menawarkan kiat untuk menghilangkan rasa cemas menulis, ‘’Anda tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh Anda. Akan tetapi, demi kesehatan dan kebahagiaan Anda, lupakan mereka dan maafkan mereka.'’

Namun, memaafkan tidak gampang. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus-menerus. Sifat pemaaf harus tumbuh karena ‘’kedewasaan rohaniah'’. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab di antara dua kekuatan : pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Rohani mereka telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine).

Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial dengan upacara pemutihan seperti halalbihalal. Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Orang yang hanya memperhatikan dirinya tak akan pernah dapat memaafkan.

Pada hakikatnya, orang egois adalah anak kecil yang menduga bahwa dunia diciptakan untuk memenuhi keinginannya. Salah satu akibat buruk dari kekuasaan adalah anggapan pengkhidmatan orang lain pada dirinya adalah kewajiban.

Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatikan kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain dari egoisme kepada altruisme. Orang-orang altruis, dalam Alquran disebut orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun). Nabi Muhammad sangat terkenal sebagai orang yang pemaaf. Beliau taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakiti dan yang mengusirnya dari tanah airnya.

Menahan marah tanpa memaafkan hanya akan menumpuk penyakit. Memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial. Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus.

Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang takwa. Namun ciri orang takwa bukan hanya suka memaafkan. Dia juga mampu meminta maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sulit dari memaafkan. Karena itu, setelah ketiganya, Tuhan menjelaskan sifat berikut dari orang takwa: ‘’Orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa, mereka ingat kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah. Dan, ia tidak mengulangi lagi apa yang dikerjakannya padahal mereka mengetahuinya'’ (QS 3:135). (92j)

October 28, 2006

Mencari Pahala Dalam Hidup

Filed under: renungan qolbu

Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian – ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan hablum-minannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan “aturan main” bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur hablum-minannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua “aturan main” ini tertuang lengkap dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.
 

Barang siapa yang dapat tetap patuh melaksanakan “aturan main” ini, dengan niat semata-mata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur hablum-minallah dan hablum-minannas, karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang ditentukan-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. “Perlengkapan” ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi baik ataupun buruk ia mampu tetap taat mengikuti “aturan main” yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak.

Baca Selengkapnya... Baca Selengkapnya…






















" Sebuah Catatan Untuk Kesejukan Hati "